Showing posts with label Catatan Pinggir. Show all posts
Showing posts with label Catatan Pinggir. Show all posts

07 January 2007

Di Kereta Api Itu

Kemarin aku kembali ke Jember. Dari Malang aku naik kereta api. Satu-satunya kereta api kelas ekonomi yang ada, KA Tawang Alun namanya. Walau kelas ekonomi yah lumayan lah, hampir sama nyamannya dengan kelas bisnis atau ekspress dari kereta lain, dan lebih nyaman lagi dibanding KA KRD yang pernah aku tumpangi sekitar 8 tahun yang lalu saat aku bolos sekolah dulu. Mungkin karena itu ya, tarifnya tidak jauh beda dengan tarifnya bus, yang hanya selisih enam ribu rupiah lebih murah.

Seperti juga di bus, pedagang asongan lalu lalang menjajakan jualannya. Ada makanan ringan berkelas ndesit seperti makanan ringanku di rumah semisal tempe goreng, ote-ote, gimbal jagung, tahu dan lain-lain, hingga makanan berat, mainan anak-anak serta beberapa alat tulis dan kantor.

Nah itu semua sudah biasa aku lihat saat naik bus-bus dihari biasanya aku melakukan perjalanan. Adapun yang menarik bagiku adalah adanya tukang sapu di sana.

Sebelum kereta berangkat, sayup-sayup aku dengar dari kursi dibelakangku

“sreek…sreek…sreek” ya rupanya adalah suara sampah bergesekan dengan lantai kereta. Seorang wanita muda muncul dari belakang kursi di mana aku duduk dengan membawa sapu bergagang pendek. Sambil membungkuk dan sesekali menyusup-nyusupkan tangan dan sapunya ke bawah kursi-kursi kereta, wanita dengan sabar menyapu sampah yang ada. Tangan kirinya membawa plastik tebal bekas tempat permen entah Relaxa atau apa. Mulut plastik itu digulung sedikit dan dipertahankan posisinya agar tetap terbuka lebar. Selanjutnya setelah menyapu sekitar kursi di mana orang-orang duduk di situ, belakangnya, samping dan depan kursi, wanita itu menyodorkan plastiknya. Tentu kita semua tahu, wanita itu bermaksud menjual jasanya, dan walaupun kita sudah menikmati jerih payahnya berupa bersihnya keadaan di sekitar kita, wanita itu tidak lantas memaksa agar jasanya dihargai dengan uang. Kadang dia sudah terima dengan hanya uluran tangan yang dikembangkan ke arahnya.

Mengingat wanita itu, aku jadi ingat dengan anak-anak kecil seusia kelas 4 SD yang pernah aku temui di pasar hewan (pasar sapi) di kotaku. Entah percaya atau tidak, aku pernah mengangankan diriku berprofesi sebagai anak-anak kecil tukang sapu di pasar hewan itu. Anak-anak itu tugasnya mirip dengan wanita di kereta itu. Membersihkan lantai truk dari kotoran sapi yang diangkut di atasnya. Kejadian itu aku saksikan di pasar hewan di kotaku saat aku ikut kakekku hendak membeli sapi di sana. Terus terang aku salut dengan anak-anak kecil itu. Waktu itu usia mereka tidak lebih tua daripada aku.

Dua pekerjaan yang dijalani oleh kedua jenis manusia itu sangatlah mulia. Walau mungkin di mata orang lain pekerjaan seperti itu amatlah hina. Ya tentu saja, aku pernah menyaksikan dosenku sendiri (sedikit dibuka ya, dosen itu mengajar aku saat aku semester satu, yang jelas bukan dosen fakultasku) mengolok-olok orang dengan profesi seperti itu. Aneh khan, disaat pekerjaan halal tidak diminati, bahkan dihina dan olok-olok; profesi haram di kejar dan dipuji.

28 April 2006

Keindahan Yang Sirna

Kali kecil itu membujur dari utara ke selatan, terletak di sebelah barat kosku. Bayanganku, 20 tahun yang lalu mungkin masih mengalirkan airnya yang bening dan segar. Mengaliri sawah di kiri kananya, anak-anak petani mandi dan bermain gembira. Di situ terdapat dam kecil, tempat mengalihkan aliran air ke saluran yang lebih kecil ke arah lain. Tak terbayang lagi betapa besar manfaat saluran kecil itu bagi petani setempat. Kini kali itu memang masih ada, tapi sudah jauh dari apa yang aku bayangkan tersebut. Airnya sih bening, tapi bening-kehitam-hitaman. Kali itu kini sangat dagkal sekali dasarnya, banyak bertumpuk sampah di sana sini baunya pun tidak sedap. Mengenaskan sekali.

Sesaat aku teringat dengan apa yang dikatakan Pak Heru, dosenku, pengampu mata kuliah Pe-Pe-We. Beberapa puluh tahun yang lalu, saat beliau masih muda pernah mengerjakan proyek irigasi di suatu wilayah di Lumajang. Proyek itu memakan biaya yang tidak sedikit tentu saja. Diharapkan proyek itu akan mempermudah petani untuk irigasi lahan pertaniannya, memperkecil input yang harus ditanggung petani dan memperbesar pendapatannya. Lalu apa coba sekarang yang terjadi. Beliau sangat trenyuh saat akhir-akhir ini berkunjung ke sana. Saluran irigasi itu, yang dahulunya di bangun di tengah-tengah sawah kini berubah menjadi di tengah-tengah kota. Yang sangat disayangkan saluran irigasi itu kini mengenaskan nasibnya. Mungkin sama seperti kali kecil saluran irigasi di sebelah kosku.

Kukira keadaan seperti ini bukanlah sesuatu yang langka pada saat ini. Yang aku temui dan yang ditemui oleh Pak Heru mungkin adalah sebagian kecil dari sekian banyak keadaan serupa yang ada di seluruh wilayah Indonesia ini, khususnya Jawa. Salah siapakah? Entahlah, aku juga tak tau.

Suatu hari pernah aku mendengarkan wawancara di radio, sang nara sumber rupanya adalah seorang praktisi yang ada hubungannya dengan dunia pertanian dan juga lingkungan hidup, aku tak tahu secara detail siapa beliau, bagiku itu tidak penting waktu itu. Yang aku ingat hingga saat ini adalah beberapa patah kata yang diungkapkan oleh beliau pada acara tersebut. Katanya, seorang temannya yang sedang studi ke Belanda pernah menceritakan bahwa dia pernah mengetahui dokumen rencana pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan Hindia Belanda seandanya Belanda masih tetap langgeng menjajah Indonesia. Intinya dokumen itu menyatakan rencana Belanda untuk menjadikan Pulau Jawa, Bali dan Madura sebagai basis pertanian, Pulau Sumatera sebagai basis industri dan pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia dengan melestarikan hutan tropis yang ada di sana. Hal yang demikian ini tidaklah tanpa dasar. Pemerintahan Hindia Belanda berpendapat bahwa rencana pengembangan itu sudah sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing pulau. Bagiku rencana ini sangat menggiurkan. Tapi entahlah, seandanyai rencana seperti itu terlaksana baik oleh pemerintahan Hindia Belanda (seandainya Belanda masih menjajah) maupun oleh pemerintah Indonesia apakah akan menghasilkan keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan saat ini.

Sebagai putra petani yang dibesarkan di tengah sawah, di bawah terik matahari, di atas ayunan gendong ibuku saat menuai padi, di atas garu-garu yang berjalan pelan ditarik sepasang sapi meratakan tanah untuk tandur padi, aku sangat sedih jika melihat keadaan yang ada saat ini. Lahan-lahan pertanian semakin sempit didesak oleh pembangunan gedung-gedung pencakar mega dan oleh perumahan-perumahan yang tidak pernah mengindahkan lingkungan. Ironisnya lahan-lahan yang dijadikan korban merupakan lahan yang subur, yang produktif, yang menyimpan potensi kehidupan bagi berjuta-juta nyawa. Memang siapa sih yang tidak ingin punya rumah di atas lahan yang baik-produktif, tersedia sumber air bersih, pemandangannya indah dan sejuta kelebihan yang lain.

Tapi lihatlah. Apa yang terjadi jika semua itu dilakukan secara berlebihan dan tanpa memperhitungkan daya dukung yang dimiliki lingkungan itu sendiri. Sekarang ini seiring dengan perkembangan perumahan-perumahan elite juga berkembang perumahan-perumahan elit (ekonomi sulit, aku mengenal istilah ini dari Pak Heru). Sekarang sudah tidak sulit lagi mencari rumah-rumah reot di berdiri miring yang ada di bantaran-bantaran sungai. Yang tidak reotpun banyak di pinggir-pinggir kali kecil saluran irigasi sebagaimana yang sudah aku gambarkan. Keadaannya pun sama, sama-sama mengenaskan, milik rakyat-rakyat yang terpinggirkan.

Aku jadi ingat nyanyiannya Iwan Fals. Aku lupa judulnya. OK tak kasih tahu ya nyanyian yang aku maksud. Demikianlah beberapa patah syairnya:

Kambing sembilan motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya
Sampai saat tanah moyangnyaku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Iwan tentu sudah melihat keadaan itu sebagaimana yang digambarkan dalam nyanyiannya sejak dua puluh atau tiga tahun yang lalu, saat nyanyian itu diciptakan. Yang membuat aku sedih (semoga saudara juga merasakan hal yang sama) adalah bahwa keadaan seperti ini semakin menjadi. Jikalau kita menyadari, keadaan kita tidak semakin membaik namun malah semakin memburuk. Mungkin yang bisa bisa kita lakukan saat ini adalah memulai segalanya dari diri sendiri. Mengendalikan diri sendiri kadang kita masih sulit, apalagi orang lain. Melakukan hal-hal baik yang memang semestinya kita lakukan merupakan langkah pertama dan utama yang harus ditempuh. Siapa tahu perbuatan baik yang kita lakukan dapat membawa manfaat bagi lingkungan dan menjadi contoh bagi individu-individu yang lain. Memang tidak kelihatan sekaligus saat ini hasilnya. Tapi sepuluh-duapuluh-tigapuluh tahun kemudian, saat oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang saat ini sedang menguasai dunia dan digantikan oleh kita yang saat ini masih muda, dunia kita akan menjadi lebih baik. Amiiin

Benar nggak?

25 June 2005

Hidup adil?

Kadang aku merasa hidup ini tak adil. Orang baik-baik hidupnya segsara, setiap hari yang kesedihan slalu yang dirasakan.
Sementara itu, orang yang prestasinya buruk dalam hidupnya, mereka malah hidup beruntung.
Mungkin ini yang bisa aku tuliskan. Tidak lengkap memang, tapi aku rasa cukup sudah mewakili perasaanku saat ini.
Semoga Allah membimbingku slalu

21 June 2005

Delapan hari yang lalu...

Delapan hari yang lalu aku. Saat itu kau akan berangkat ke kampus. Aku? Waktu itu aku belum dapat mengikuti ujian. Aku belum bayar SPP. Satu.....dua......tiga.....wah suntuk aku. Banyak yang harus aku selesaikan dalam waktu beberapa hari ini. Dan kau menambah satu lagi beban yang tidak ringan untukku. Kemudian kau menghilang begitu saja.
Hua ha..... ha..... ha.......
Seandainya... seandainya....